Penguatan Rubel Terhadap Dolar AS Dorong Perlambatan Inflasi Rusia
Dmitry Feoktistov/TASS/The Moscow Times
Lembaran uang Rubel Rusia. Penguatan Rubel Terhadap Dolar AS Dorong Perlambatan Inflasi Rusia 

Laporan Wartawan Tribunnews, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, MOSCOW – Indeks harga konsumen (CPI) Rusia terpantau terus mengalami penurunan sebesar 0,12 persen, dari 16,69 persen menjadi 16,42 persen secara year-to-year, terhitung sejak 17 Juni 2022 lalu.

“Indeks harga konsumen (CPI) Rusia turun 0,12 persen dalam sepekan hingga 17 Juni, turun untuk minggu ketiga berturut-turut setelah lonjakan besar-besaran pada Maret,” menurut data yang dikutip dari layanan statistik federal Rosstat, pada Rabu (22/6/2022).

Penurunan ini menjadi penanda adanya perlambatan laju inflasi di Rusia, mengingat pada Maret lalu Moskow telah mengalami lonjakan indeks CPI sebesar 7,61 persen.

Hingga membuat bank sentral memperketat kebijakannya, dengan memangkas suku bunga demi menjaga penurunan ekonomi di tahun ini.

Dilansir dari Reuters, perlambatan inflasi Rusia diketahui mulai terjadi setelah adanya pemulihan cepat pada rubel serta penurunan permintaan konsumen.

Dimana nilai tukar rubel menguat sebesar 60,63 persen, hingga membuat rubel berada di level tertinggi yaitu 54,72 per dolar AS. Hal inilah yang membuat laju inflasi tahunan Rusia melambat baru-baru ini.

Semenjak Vladimir Putin melakukan operasi militer ke Ukraina, indeks CPI di Rusia pada Maret lalu terpantau terus mengalami lonjakan deflasi, kondisi tersebut makin diperparah dengan adanya sanksi ekonomi dari AS dan Barat.

Kekacauan ini lantas menyeret naiknya berbagai harga kebutuhan pokok mulai dari sayuran dan gula hingga pakaian serta telepon pintar.

Sejumlah cara telah dilakukan pemerintah Rusia untuk memperlambat laju pergerakan inflasi. Salah satunya dengan memangkas suku bunga utamanya pada awal Juni, sebelum krisis Rusia mencapai 9,5 persen.

Dengan menurunnya indeks inflasi di Rusia, maka diperkirakan kondisi ekonomi Rusia bisa kembali pulih dalam waktu dekat meski kini sanksi Barat masih menghantui pelaku usaha di Rusia.

Atas