Sri Lanka Bangkrut, Rakyatnya Kini Berbondong-bondong Migrasi ke Negara Lain
AFP
Rakyat Sri Lanka mengantre untuk membeli minyak tanah untuk keperluan rumah tangga di sebuah stasiun pasokan di Kolombo pada 17 Juni 2022. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, COLOMBO – Sri Lanka kini benar-benar menjadi negara bangkrut dengan depresiasi mata uang yang menggila, laju inflasi yang membumbng hingga lebih dari 33 persen, serta gejolak politik dan ekonomi yang berkepanjangan.

Bangkrutnya perekonomian Sri Lanka membuat rakyatnya frustrasi dengan masa depan negaranya sendiri. Sebagian dari mereka berbondong-bondong melakukan migrasi massal ke negara lain.

Krisis ekonomi Sri Lanka telah memaksa rakyat negara kepulauan berpenduduk 22 juta orang itu melakukan migrasi demi mencari penghidupan yang lebih layak.

Bahkan selama beberapa minggu terakhir, Departemen Imigrasi dan Emigrasi Sri Lanka terus dipadati warganya yang ingin mendapatkan paspor.

Seperti dilakukan R M R Lenora. Wanita 33 tahun asal Sri Lanka ini mengaku nekat menempuh perjalanan sejauh 170 km dan rela menghabiskan dua hari hanya untuk mengurus berkas demi mendapatkan paspor, dengan harapan agar ia dapat segera meninggalkan negaranya yang tengah mengalami krisis.

Sebelum memutuskan untuk bermigrasi dan melamar pekerjaan sebagai pembantu di Kuwait, Lenora sebelumnya bekerja sebagai buruh garmen.

Sementara suaminya mencari nafkah sebagai seorang juru masak di sebuah restoran kecil di kota Nuwara Eliya, tepatnya di perbukitan tengah Sri Lanka.

Namun setelah pemerintah Sri Lanka mengumumkan telah kehabisan cadangan uang untuk memenuhi kebuyuhan impor minya, pangan dan obat -obatan, Lenora dan suaminya lantas diberhentikan. Kondisi inilah yang membulatkan tekad Lenora untuk bermigrasi.

“Suami saya kehilangan pekerjaan karena tidak ada gas untuk memasak dan biaya makan yang melambung tinggi. Sangat sulit untuk mencari pekerjaan dan gajinya sangat rendah,” kata Lenora.

Atas